Judul : Addicted to Weblog
Kisah Perempuan dalam Dua Dunia
Penulis : Labibah Zain
Penerbit : Pustaka Populer Obor
Tahun : 2005
Tebal : 191 hlm
Beberapa hari lalu, di harian Kompas ada sebuah artikel menarik membahasa dunia maya. Tulisan tersebut diberi judul "Kematian Blogger". Isi artikel itu kira-kira tentang betapa pergaulan di dunia maya antar para blogger telah demikian emosionalnya. Meskipun mereka belum pernah saling berjumpa, namun kedekatan dan kekerabatan yang tercipta tak ubahnya seperti di dunia real. Malah kadang-kadang lebih erat. Walau pun juga tak mustahil bisa lebih 'kejam'.
Masih tentang artikel tadi yang berkisah soal kematian salah seorang blogger (pemilik weblog) yang cukup dikenal di dunia maya yang membuat ratusan sahabat virtualnya berduka. Setiap hari sejak terbitnya kabar duka tersebut, weblog milik mendiang itu ramai disinggahi pengunjung untuk menyatakan rasa belasungkawa. Para pengunjung itu sebagian besar mungkin belum pernah sekalipun bertemu muka dengan pemilik blog yang meninggal itu.
Sejak ditemukannya teknologi internet dengan fasilitas-fasilitas ajaibnya (email, mailing list, chatting, weblog) dunia tiba-tiba terasa demikian sempit. Batas-batas ruang dan waktu seolah ditiadakan. Hanya dengan menggenggam dan mengeklik mouse, sesama pengguna internet di seluruh dunia bisa saling terhubung dengan cepat. Bahkan bercakap-cakap langsung.
Labibah Zain, cerpenis yang kini mukim di Kanada, mencatat fenomena menarik seputar kehidupan di dunia maya ke dalam cerpen-cerpennya. Kumpulan cerpen itu diberi judul : Addicted to Weblog dengan subjudul : Kisah Perempuan dalam Dua Dunia.
Dari judulnya saja, kita segera bisa menduga tema apa yang diangkat Labibah lewat kumpulan cerpennya itu. Dari delapan cerpennya, lima mengusung tema dari dunia maya dengan tokoh utamanya kebanyakan perempuan. Ya, tampaknya Labibah beranggapan, bahwa perempuan sangat rentan terhadap dampak-dampak negatif dunia cyber. Hal ini terlihat dari beberapa cerpennya, menampilkan tokoh perempuan yang kecanduan internet atau korban tipu-muslihat pergaulan dunia virtual.
Misalnya, pada cerpen Addicted to Weblog yang menjadi cerpen pembuka di buku ini. Tokohnya adalah seorang istri berstatus ibu rumah tangga yang keranjingan nge-blog. Setiap hari kerjanya hanya mengurusi blog-nya atau berselancar ke blog-blog (blog walking) milik temannya. Mulanya ia masih bisa membagi waktu antara ngeblog dan mengerjakan pekerjaan lainnya. Namun, kian hari, ia semakin ketagihan dengan teknologi itu. Bagaikan tersihir, ia menjadi begitu tergantung pada blog-blog itu. Segala hal ia curahkan di blog-nya atau jika sedang punya masalah, ia bertanya pada teman-teman sesama blogger. Mulai dari urusan anak, suami, pekerjaan, seks sampai resep-resep masakan.
Akhirnya, lambat-laun ia mengabaikan pekerjaan rumah dan kewajibannya sebagai istri. Ia asyik dengan dirinya sendiri dan teman-teman blogger-nya. Dia tak pernah lagi memasak untuk anak dan suaminya. Perempuan itu, seolah-olah tak dapat hidup tanpa internet.
Lalu pada cerpen kedua, Perempuan dan Lelaki Maya. Sinta, nama tokohnya kali ini, menjadi korban cyber love (asmara virtual). Lebih parah lagi, di juga menjadi korban dari seorang maniak yang kerap meneror di blognya. Si Maniak ini ternyata orang yang sangat dikenalnya dalam kehidupan riil.
Ada lagi Petty, tokoh di Perempuan dalam Kegelapan. Petty adalah korban lain lagi akibat sihir internet. Petty bertemu, berkenalan, dan jatuh cinta pada seorang pria yang dikenalnya lewat chatting. Petty mabuk kebayang sehingga nekad meninggalkan suami dan memilih hidup bersama tanpa menikah dengan pria dari internet itu.
Perempuan dalam pandangan Labibah yang ditampilkan melalui tokoh-tokoh cerpennya ini adalah makhluk "lemah" dengan kecenderungan mudah terpikat rayuan gombal dan janji-janji surga. Bukan saja pada ruang-ruang maya di internet, tetapi juga dalam kehidupan nyata. Kecuali pada Perempuan Pengusung Tradisi. Tokoh perempuannya dilemahkan dan dibuat tak berdaya oleh aturan tradisi, budaya, serta agama.
Persoalan perempuan yang diangkat Labibah adalah persoalan-persoalan yang karib dengan keseharian kita. Asmara maya, perselingkuhan, kawin paksa, kecanduan internet. Bukankah semua itu dapat dengan mudah kita temui dalam kehidupan sehari-hari? Kalau pun bukan kita sendiri yang mengalami, barangkali kita telah pernah melihat atau mendengarnya dari kawan-kawan kita.
Agaknya Labibah lewat cerpen-cerpennya ini ingin bertegur sapa dan berbagi kisah dengan para pembacanya (khususnya perempuan) sembari sedikit menitipkan pesan supaya lebih bijak dan arif menyikapi teknologi internet. Sebagaimana halnya pisau dapur, akan menjadi benda berguna jika dipakai mengiris bawang atau mengupas apel dari pada untuk melukai sebatang pohon pelindung, misalnya. Begitu pula internet, akan sangat besar manfaatnya apabila dipergunakan untuk melakukan hal-hal positif.
Endah Sulwesi 4/10
www.perca.blogdrive.com
Thank you ya ndah!!!
Sudah sah rasanya bukuku karena sudah di review Endah. hehe
No comments:
Post a Comment